Monday, 13 July 2026

Perempuan Bicara Rasa: Saat Karier Terus Bertumbuh, Garis Dua Masih Menunggu

 

perempuan bicara rasa


"Mbak Fitri, kapan menyusul jadi ibu?"

Aku tersenyum.

Senyum yang sudah kupelajari bertahun-tahun. Senyum yang cukup untuk membuat orang percaya bahwa pertanyaan itu tidak melukai apa pun.

Padahal, di dalam dada, selalu ada sesuatu yang runtuh setiap kali kalimat itu mampir di gendang telingaku, ada getar luka yang kulipat rapi dalam hati.

Aku menggenggam cangkir teh yang mulai kehilangan hangatnya. Di ruang tamu itu, obrolan masih mengalir. Tentang sekolah anak, biaya susu, jadwal imunisasi, sampai tingkah lucu balita yang membuat semua orang tertawa.

Aku ikut tertawa.

Sebab terkadang, menjadi perempuan dewasa berarti pandai menyembunyikan suara hatinya sendiri.


perempuan bicara rasa

Namaku Fitri.

Aku bekerja di perpustakaan daerah. Di tempat itu, aku menemukan rumah kedua. Rak-rak buku selalu mengajarkanku bahwa setiap kehidupan memiliki cerita, dan setiap cerita memiliki waktunya sendiri untuk mencapai halaman terakhir.

Di sela pekerjaan, aku menulis buku. Buku anak, buku kuliner, novel. Aku juga mendongeng untuk anak-anak. Sesekali berdiri di depan banyak orang sebagai pembicara literasi. Mengajak mereka mencintai kata-kata, karena aku percaya tulisan mampu menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak pernah kita kenal.

Orang-orang mengenalku dari panggung, dari buku yang kutulis dan mungkin dari senyum yang kubagikan.

Mereka berkata, "Mbak Fitri keren, pintar, kariernya sukses."


Aku mengangguk sambil mengucapkan syukur karena memang benar. Tuhan begitu baik kepadaku. Doa-doaku tentang pekerjaan seperti dijawab satu demi satu. Kesempatan demi kesempatan datang tanpa pernah benar-benar kuduga.

Namun ada satu doa yang hingga hari ini masih seperti surat yang belum memperoleh balasan. Sebuah doa agar suatu hari ada seseorang yang memanggilku, "Ibu."

 

perempuan bicara rasa

Awal pernikahan kami begitu sederhana.

Kami sering membayangkan rumah kecil yang ramai oleh langkah kaki mungil.

"Kamu maunya laki-laki atau perempuan?" tanyanya suatu malam.

"Yang penting sehat."

Jawaban klasik.

Tapi di balik jawaban itu, aku diam-diam sudah membayangkan rambut yang akan kusisir sebelum sekolah, bekal yang akan kusiapkan setiap pagi, juga dongeng yang akan kuceritakan sebelum tidur.

Ternyata hidup tidak tumbuh sesuai imajinasi.

Satu tahun berlalu.

Dua tahun.

Lima tahun.

Lalu angka-angka itu semakin panjang hingga aku berhenti menghitung.

Yang justru rajin menghitung adalah orang lain.

"Sudah berapa tahun menikah?"

"Belum isi ya?"

"Sudah periksa?"

"Jangan terlalu sibuk kerja."

Aku tahu mereka tidak sedang berniat jahat tetapi luka tidak selalu lahir dari niat buruk. Kadang juga lahir dari kalimat yang terlalu sering kali diulang.

Ada masa ketika aku mulai takut membuka media sosial. Bukan karena iri melainkan karena aku lelah berdamai dengan diriku sendiri. Setiap kali melihat foto bayi yang baru lahir, aku akan tersenyum, menuliskan ucapan selamat, lalu diam-diam mematikan layar ponsel.

Aku bertanya dengan rindu yang sama.

"Tuhan... kapan giliranku?"

Tidak ada jawaban. Hanya sunyi. Sunyi yang membuatku mulai mempertanyakan diriku sendiri.

Apakah aku kurang menjaga kesehatan?

Apakah aku terlalu sibuk mengejar mimpi?

Apakah aku belum pantas menjadi seorang ibu?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan berubah menjadi suara yang tinggal di kepalaku. Suara yang membuatku merasa kecil. Suara yang membuatku membandingkan hidupku dengan perempuan lain.

Aku mulai melihat karierku bukan lagi sebagai anugerah melainkan pelarian. Seolah semua buku yang kutulis tidak lagi berarti karena di rumah belum ada suara anak yang memanggilku.

Aku merasa bersalah setiap kali menerima prestasi.

Aneh, bukan?

Padahal tidak ada hubungan antara pencapaian dan rahim tetapi rasa tidak percaya diri memang sering kali tidak masuk akal. Ia tumbuh dari ketakutan-ketakutan yang aku biarkan hidup terlalu lama. Aku perempuan bicara rasa yang terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam sedang memunguti serpihan diriku sendiri.

perempuan bicara rasa

Suatu pagi aku mendongeng di sebuah sekolah dasar.

Anak-anak duduk melingkar. Mereka tertawa ketika aku mengubah suaraku menjadi suara singa. Mereka bertepuk tangan ketika cerita berakhir.

Saat aku hendak pulang, seorang anak perempuan berlari menghampiriku.

Ia memeluk pinggangku erat.

"Bu, besok datang lagi ya."

Aku terdiam.

Entah mengapa mataku terasa panas.

Aku mengusap rambutnya pelan.

"Iya, kalau ada kesempatan Kak Fitri insyallah ke sini lagi."

Tapi di perjalanan pulang, aku menangis.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu, kasih sayang ternyata tidak menunggu status.

Aku memang belum dipanggil "Ibu" oleh anak yang lahir dari rahimku namun Tuhan masih memberiku kesempatan dipanggil "Bu" oleh begitu banyak anak yang kutemui.

Bukankah itu juga bentuk cinta?

Dan di hari itu aku berhenti memusuhi tubuhku.

Tubuhku ini sudah bekerja keras. Berulangkali menjalani pemeriksaan, menelan berbagai butir vitamin, menyimpan banyak haarapan lalu belajar menerima kecewa setiap bulan.

Kini aku masih menunggu, masih berikhtiar, masih menyebut nama yang sama dalam setiap doa setelah salat. Aku masih membayangkan suatu hari ada tangan kecil yang menggenggam jemariku. Aku masih berharap namun aku tidak ingin lagi menghabiskan hidup dengan merasa kurang. Aku ingin menikmati setiap halaman yang sedang Tuhan tulis karena mungkin, kisahku memang tidak sama dengan perempuan lain dan tidak apa-apa.

Aku percaya, setiap perempuan memiliki musimnya sendiri. Ada yang dipertemukan dengan doa-doanya lebih cepat, ada yang diminta menunggu lebih lama agar hatinya bertumbuh lebih luas.

Aku tidak tahu kapan penantian ini akan berakhir tetapi aku memilih tetap berjalan, tetap menulis, tetap mendongeng, tetap bekerja di antara buku-buku yang selalu mengajarkan bahwa akhir cerita sering kali datang ketika tokohnya hampir menyerah.

Melalui Perempuan Bicara Rasa, aku ingin memeluk setiap perempuan yang hari ini sedang merasa tidak percaya diri. Yang diam-diam menangis di kamar mandi setelah melihat satu garis pada test pack, yang tersenyum ketika orang lain mengumumkan kehamilan, tetapi pulang membawa sesak yang tak mampu dijelaskan, yang mulai kehilangan percaya diri karena dunia terlalu sibuk mengukur perempuan dari apa yang belum dimilikinya.

Percayalah.

Rahimmu bukan ukuran seluruh nilai hidupmu. Mungkin hari ini kita belum tahu kapan semua doa itu dijawab namun aku percaya, Tuhan tidak pernah terlambat mengirimkan Berita Baik.

Sampai saat itu tiba, izinkan kita tetap bertumbuh,tetap berkarya, tetap mencintai diri sendiri.

Sebab pada akhirnya, Perempuan Bicara Rasa bukan hanya tentang menunggu dua garis, aku telah belajar bahwa menjadi perempuan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita tetap mencintai diri sendiri di tengah penantian yang paling sunyi.

 "Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog "Perempuan Bicara Rasa" sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026"

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search